Diagnosis Rasa (1)
- Get link
- X
- Other Apps
Kadang menata hati adalah pekerjaan sulit |
Lena memejamkan mata ketika ia keluarkan asap rokok dari bibirnya. Ritual yang selalu ia lakukan ketika merokok. Ia merasa tubuhnya dilingkupi sekaligus terlindungi oleh asap. Donny, mantan suaminya, pernah menyebutnya "Lebay" untuk ritual ini. Lena selalu hanya tersenyum miring jika Donny berkomentar seperti itu. Ia menikmatinya, itu yang jauh lebih penting. Sekarang, detik ini, Lena melakukan itu bukan hanya karena kenikmatan. Ia membutuhkan perlindungan. Ia perlu membentengi dirinya agar tidak terperosok untuk kedua kali.
Di hadapannya, Donny duduk. Lelaki ganteng itu mengenakan kemeja biru tua dengan logo Basset Hound pada sakunya. Donny pasti sengaja memilih kemeja itu. Lena membelikannya pada ulang tahun Donny ketika mereka masih bersama. Donny pasti juga sengaja memilih restoran ini. Lena sangat menyukai Khao Pad dari restoran ini. Daun ketumbarnya terasa sekali, membuat tidak enek. Donny pasti sudah mengatur semuanya sehingga mereka bisa mendapatkan meja favorit Lena. Berada di area merokok yang terdekat dengan pintu pembatas ruangan ber-AC.
Jangan pandang matanya! Kamu sadar mata Donny berbahaya. Peringatan itu berulang kali muncul di kepala Lena. Jadi ia berupaya sekuat mungkin agar tatapan matanya tidak bersirobok dengan tatapan Donny. Bisa gawat!
Layar ponsel Lena menampilkan nomor Leni, adiknya. Lena tidak berniat menerima. Ia malah memasukkan ponsel ke dalam tas. Berencana nanti akan menelepon balik. Lebih baik ia kembali memfokuskan diri pada Donny.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Kalimat Lena bernada otoriter. Ia berikan tatapan skeptis kepada Donny. Untung saja lelaki itu tidak peduli. Lena hendak mematikan rokok. Donny menyurungkan asbak.
"Nggak usah buru-buru. Makan dulu, yuk!"
Lena menurut. Sudah lama ia tidak ke restoran ini. Sejak memutuskan bercerai dengan Donny. Tidak ada restoran yang menyajikan masakan Thailand seenak restoran ini. Lena mengangkat sendok dan garpu. Suapan pertamanya terasa sungguh nikmat.
"Masih enak seperti dulu, kan?" Pertanyaan Donny tiba-tiba membuat Lena ill fill . Cara Donny mengatakan "Seperti dulu" terdengar penuh nada godaan di telinga Lena. Rupanya bukan saja mata Donny yang perlu diwaspadai. Suaranya juga.
Lena hanya mengangkat alis.
"Tom yumku juga masih sama enaknya. Seperti dulu."
Lagi. Kata-kata "Seperti dulu." Tidak memerlukan IQ superior untuk mengerti ke arah mana pembicaraan Donny.
Rasa sebal semakin mampu mendapat celah di hati Lena. Apa yang Donny lakukan seolah-olah mereka tidak pernah bertengkar hebat. Apakah Donny mengalami amnesia? Hingga dengan seenaknya ia berkata "Seperti dulu" berulang kali.
Baru saja Lena akan melakukan suapan berikutnya, Donny sudah melanjutkan kalimatnya."Perasaanku juga masih seperti dulu."
Kalimat Donny memang tidak membuat Lena terkejut. Bukannya ia malah memberikan tanggapan positif. Perempuan berkulit nyaris gelap tetapi glowy itu malah meletakkan dengan kasar sendok dan garpunya.
"Terus apa hubungannya dengan makan malam ini? Kamu tidak bermaksud merayuku, kan?"
"Aku tidak perlu merayumu."
Mau tidak mau, kening Lena mengerut. Geram mendengar nada sok dari kalimat Donny.
"Aku hanya ingin minta izinmu. Ya, meskipun aku tidak perlu melakukan ini. Aku harus menghargaimu."
Lena menegakkan tubuh, menarik napas dan ia perlu beberapa menit untuk menata hatinya. Mengapa terasa sulit? Khao pad nya tidak lagi memikat.
*** bersambung***
https://terpakukilaukata.blogspot.com/2020/11/diagnosis-rasa-2.html
Foto : koleksi pribadi
Lokasi : Food Matterz
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
He33, jadi penisirin, cerbungnya dikit2 banget mbak ^^
ReplyDelete